
Sebanyak 200 mahasiswa dari unsur Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) dan penerima beasiswa mengikuti pembukaan Baitul Arqam Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tahun 2026 yang digelar pada Rabu, 4 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari satu malam, yakni 4–5 Maret 2026, sebagai bagian dari penguatan ideologi, kepemimpinan, dan karakter kader Muhammadiyah di lingkungan kampus.
Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Rektor UMM, Nazaruddin Malik, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya Baitul Arqam sebagai ruang pembinaan ruhiyah dan intelektual mahasiswa. Beliau menyampaikan bahwa mahasiswa Muhammadiyah tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam nilai, visi, dan keberpihakan sosial.
“Mahasiswa UMM harus menjadi generasi yang tidak sekadar cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Baitul Arqam ini adalah proses pembentukan karakter agar kader Muhammadiyah mampu memimpin dengan integritas dan kebermanfaatan,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan 12 pembicara yang terdiri atas jajaran pimpinan Muhammadiyah dan pimpinan universitas. Beragam materi disampaikan, mulai dari penguatan ideologi Muhammadiyah, kepemimpinan profetik, manajemen organisasi, hingga peran mahasiswa dalam merespons tantangan global. Seluruh sesi dirancang interaktif dengan pendekatan dialogis dan reflektif, sehingga peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak berdiskusi dan berefleksi.
Ketua pelaksana Baitul Arqam Mahasiswa 2026 dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun fondasi nilai dan kesadaran gerakan pada mahasiswa. “Tujuan utama Baitul Arqam adalah meneguhkan komitmen ideologis dan membentuk karakter kepemimpinan mahasiswa yang berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan. Kami ingin peserta tidak hanya aktif di organisasi, tetapi juga memiliki arah perjuangan yang jelas dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Beliau menambahkan bahwa pemilihan peserta dari unsur ormawa dan penerima beasiswa memiliki pertimbangan strategis. Mahasiswa pada dua kategori tersebut dinilai memiliki potensi kepemimpinan dan pengaruh di lingkungan kampus, sehingga pembinaan intensif menjadi penting sebagai investasi jangka panjang bagi persyarikatan dan bangsa.
Selama dua hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang cukup padat. Selain penyampaian materi, terdapat sesi diskusi kelompok, refleksi malam, serta penyusunan rencana tindak lanjut (RTL) yang akan diimplementasikan di organisasi masing-masing. Suasana kebersamaan dan kekhidmatan terasa kuat, terutama saat sesi refleksi yang menjadi momen evaluasi diri dan penguatan komitmen personal sebagai kader Muhammadiyah.
Salah satu peserta, Rahmawati, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai peran mahasiswa dalam gerakan dakwah kampus. “Saya merasa diingatkan kembali tentang tujuan awal saya aktif di organisasi. Tidak hanya untuk pengalaman atau relasi, tetapi untuk kontribusi nyata. Materi tentang kepemimpinan profetik sangat membekas,” tuturnya.
Hal senada disampaikan oleh Dimas, penerima beasiswa yang juga aktif di unit kegiatan mahasiswa. Menurutnya, Baitul Arqam menjadi ruang konsolidasi nilai yang jarang didapatkan di perkuliahan reguler. “Kegiatan ini membuat saya lebih percaya diri sebagai kader Muhammadiyah. Diskusinya terbuka, pematerinya inspiratif, dan kami diberi ruang untuk menyampaikan keresahan serta gagasan,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan dalam setiap sesi. Banyak di antara mereka yang mengajukan pertanyaan kritis terkait tantangan dakwah di era digital, dinamika organisasi, hingga isu-isu kebangsaan. Para pemateri pun memberikan respons yang konstruktif, menekankan pentingnya adaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Rektor UMM dalam penutupannya berharap Baitul Arqam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi proses kaderisasi yang berkelanjutan. Ia juga mengajak peserta untuk menjadikan pengalaman dua hari tersebut sebagai titik tolak perubahan diri.
“Transformasi besar selalu dimulai dari kesadaran kecil dalam diri. Jika 200 mahasiswa ini pulang dengan semangat baru dan komitmen yang diperbarui, maka dampaknya akan terasa di seluruh lini organisasi dan kehidupan kampus,” tegasnya.
Dengan terselenggaranya Baitul Arqam Mahasiswa 2026, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam membangun generasi intelektual yang berkarakter, berideologi kuat, dan siap menjadi agen perubahan. Selama dua hari satu malam, para peserta tidak hanya ditempa secara pemikiran, tetapi juga dikuatkan secara spiritual dan emosional—sebuah fondasi penting bagi lahirnya pemimpin masa depan yang berintegritas dan berkemajuan.