
MALANG – Kementerian Dalam Negeri BEM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode 2025/2026 sukses menyelenggarakan forum dialog bertajuk “Kondisi 2026” bersama jajaran pimpinan universitas. Bertempat di Convention Hall Sengkaling pada Sabtu (4/4), agenda ini menjadi wadah krusial untuk menyelaraskan aspirasi mahasiswa dengan arah kebijakan kampus di bawah naungan Kabinet Bhinneka Cita.
Fokus Utama: Pengabdian, Riset, dan Kendala Operasional
Presiden Mahasiswa UMM membuka forum dengan menekankan pentingnya komunikasi dua arah yang produktif. Terdapat empat bidang utama yang menjadi sorotan, yakni pengabdian masyarakat, penelitian, pengembangan SDM, serta penguatan riset.
Selain visi besar, Presiden Mahasiswa menyampaikan realita lapangan terkait kendala birokrasi peminjaman tempat serta perlunya kejelasan prioritas anggaran agar organisasi mahasiswa (Ormawa) dapat mengelola pendanaan dengan lebih bijak.
Terobosan Akademik: Akselerasi S1-S2 dan Go International
Wakil Rektor I, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., memaparkan sejumlah program strategis untuk meningkatkan daya saing lulusan. Beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara organisasi dan akademik melalui beberapa program unggulan:
-
Program Fast-Track: Percepatan studi S1 langsung ke S2 dalam waktu 5 tahun dengan biaya lebih ringan.
-
Peningkatan Kompetensi Bahasa: Persiapan studi internasional ke negara mitra seperti Amerika Serikat, Australia, dan Rusia.
-
Mirror Class: Alternatif pengembangan akademik untuk memperkuat interaksi pembelajaran global.
Komitmen Keuangan dan Kemandirian Organisasi
Dalam aspek finansial, Wakil Rektor II, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan komitmen kampus untuk tidak menaikkan biaya pendidikan. Sebaliknya, kampus justru memperluas akses beasiswa melalui kerja sama eksternal maupun kontribusi sukarela dari para Guru Besar.
Beliau juga mendorong mahasiswa untuk kreatif mencari pendanaan mandiri (sponsor). “Hubungan organisasi bukanlah relasi atasan-bawahan, melainkan mitra. Mahasiswa harus memiliki perencanaan matang, termasuk menyiapkan Plan A, B, dan C saat menghadapi kendala fasilitas,” jelasnya.
Riset Berbasis Kolaborasi dan Insentif Global
Wakil Rektor IV, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan bahwa di bidang penelitian dan kerja sama, setiap proposal riset dosen kini wajib melibatkan minimal dua mahasiswa. Kampus juga menyiapkan insentif bagi publikasi jurnal bereputasi seperti Scopus, yang dapat dikonversi menjadi pengganti skripsi. Selain itu, peluang internasional kini diperluas tidak hanya pada bahasa Inggris, tapi juga bahasa Jerman, Jepang, hingga Mandarin.
Penguatan Ekosistem Kemahasiswaan
Wakil Rektor III, Dr. Nur Subeki, ST, MT, bersama Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian prestasi mahasiswa. Mereka menegaskan bahwa sarana prasarana telah disediakan secara memadai untuk mendukung kreativitas mahasiswa.
Pihak universitas juga membuka peluang konversi aktivitas organisasi menjadi mata kuliah sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi aktivis, selama dikordinasikan dengan pihak Dekanat secara rasional.
Aspirasi Mahasiswa: Beasiswa Aktivis dan Kaderisasi
Sesi tanya jawab menjadi momentum bagi perwakilan fakultas untuk bersuara. BEM FAPSI dan FPP menyoroti pentingnya sinkronisasi pendataan prestasi serta perlunya program kaderisasi formal seperti LKMM tingkat fakultas. Merespons hal tersebut, Presiden Mahasiswa mengusulkan adanya Beasiswa Khusus Aktivis sebagai solusi bagi mahasiswa yang aktif namun memiliki kendala finansial.
Dialog ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk membangun hubungan harmonis. Pimpinan menegaskan bahwa pengalaman organisasi adalah investasi berharga bagi kepercayaan diri yang tidak didapatkan di ruang kelas formal.