
MALANG,– Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka yang aktif dalam pengabdian masyarakat. Sebanyak empat Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) di lingkungan UMM dinyatakan resmi lolos pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Belmawa Dikti Kemendikbudristek.
Pencapaian ini tidak diraih dengan mudah. Keberhasilan ini merupakan buah dari proses panjang dan perjuangan melelahkan yang harus dilalui oleh para mahasiswa sejak awal tahun.
Perjalanan Panjang Melalui Tiga Tahapan Seleksi yang Ketat
Sebelum dinyatakan berhak menerima pendanaan nasional, tim-tim Ormawa UMM harus melewati kompetisi yang sangat sengit, baik di internal kampus maupun di tingkat kementerian.
Tahap Seleksi Universitas: Proses dimulai dari hulu, di mana puluhan proposal dari berbagai Ormawa di UMM disaring secara ketat oleh Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UMM. Pada tahap ini, orisinalitas ide, keberlanjutan program, dan kesesuaian dengan kebutuhan desa mitra menjadi indikator utama. Hanya proposal-proposal terbaik yang kemudian direkomendasikan kampus untuk melenggang ke tingkat nasional.
Tahap Seleksi Administrasi (Belmawa Dikti): Di tingkat nasional, proposal dari UMM harus bersaing dengan ribuan proposal dari perguruan tinggi seluruh Indonesia. Tahap ini menuntut ketelitian tingkat tinggi, di mana format, legalitas, struktur anggaran, dan kelengkapan dokumen diperiksa secara rigid oleh tim reviewer Belmawa Dikti.
Tahap Seleksi Akhir (Substansi & Presentasi): Setelah lolos skrining dokumen, tim yang tersisa diuji secara langsung dalam sesi presentasi dan tanya jawab mendalam. Di hadapan para penilai nasional, para ketua tim dari UMM berhasil mempertahankan urgensi program mereka, memaparkan penguasaan teknologi yang diusung, serta meyakinkan dewan juri mengenai dampak nyata yang akan dibawa ke desa mitra.
Inovasi dan Narasi Kegiatan Empat Ormawa yang Lolos
Melalui semangat “Students Today, Leaders Tomorrow”, berikut adalah narasi pergerakan dan inovasi yang akan diimplementasikan oleh empat Ormawa UMM di lapangan:
- Digitalisasi Kerajinan Mendong di Desa Blayu oleh HIMAGRI
Dipimpin oleh Adryan Rizky dan didampingi dosen Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P., Himpunan Mahasiswa Agribisnis (HIMAGRI) membawa program bertajuk “CRAFT-HUB: Inovasi dan Strategi Digital Marketing Berbasis Business Incubation Tanaman Mendong untuk Mewujudkan Sentra Wirausaha Produk Kreatif Desa Blayu.”
Desa Blayu memiliki potensi besar pada tanaman mendong, namun pengrajin lokal kerap terkendala rantai pasok dan pemasaran yang konvensional. HIMAGRI hadir membangun sebuah ekosistem Business Incubation (inkubasi bisnis) terstruktur. Mereka akan melatih warga setempat untuk melakukan diversifikasi produk kreatif berbahan mendong, mendirikan platform “CRAFT-HUB” sebagai pusat pemasaran, dan mengajarkan strategi digital marketing agar produk anyaman Desa Blayu mampu menembus pasar nasional dan global.
- Restorasi Lahan Pertanian Desa Tawangargo oleh HIPOTESA
Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIPOTESA) yang dikomandani oleh Intsya Bhiyuga Digjoyo bersama Dospem Ganjar Adhywirawan Sutarjo, S.Pi., MP., mengusung program “Pemberdayaan Desa Tawangargo Melalui Optimasi Kesuburan Tanah Berbasis Kompos Limbah Organik dengan Teknologi Pre-Kompos Multi-Stage dan Agen Hayati.”
Menghadapi masalah penurunan kualitas tanah akibat pupuk kimia, HIPOTESA bergerak melakukan edukasi dan penerapan teknologi pertanian berkelanjutan di Desa Tawangargo. Mahasiswa akan mengedukasi petani untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi menggunakan metode Pre-Kompos Multi-Stage yang dipadukan dengan agen hayati. Kegiatan ini tidak hanya memulihkan kesuburan tanah secara ekologis, tetapi juga menekan biaya produksi pertanian warga secara signifikan.
- Eduwisata Berbasis IoT di Desa Sukolelo oleh HIMATEKPA
Di sektor pariwisata modern, Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (HIMATEKPA) di bawah kepemimpinan Muhammad Azizzan Al Ghifari dan bimbingan Dahlia Elianarni, meluncurkan program “Mewujudkan Desa Sukolelo Menjadi Kawasan Eduwisata Integrasi Sumber Segaran dan Kampung Herbal Melalui Capacity Building dan Optimalisasi Budidaya dengan IoT.”
HIMATEKPA melihat potensi wisata alam Sumber Segaran dan Kampung Herbal di Desa Sukolelo yang belum tergarap optimal. Melalui PPK Ormawa, mereka akan melakukan capacity building bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat. Menariknya, mahasiswa akan mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) pada sistem penyiraman dan pemantauan tanaman herbal. Pengunjung tidak hanya disuguhi pemandangan alam, tetapi juga wisata edukasi modern mengenai pemanfaatan teknologi di bidang pangan dan herbal.
- Teknologi Pasca-Panen Kopi Desa Klampok oleh BEM FPP
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian-Peternakan (BEM FPP) yang diketuai oleh Mochammad Amir Muchtar dengan bimbingan Afifa Husna, S.TP., M.TP., M.Sc., mengimplementasikan program “Smart Multifunctional Fermentor dengan Sistem Karbonasi Terkontrol untuk Meningkatkan Mutu dan Nilai Tambah Kopi Petani di Desa Klampok.”
Selama ini, petani kopi di Desa Klampok menjual hasil panen dalam bentuk biji mentah dengan harga yang relatif rendah akibat proses fermentasi tradisional yang kurang stabil. BEM FPP turun tangan dengan membawa inovasi alat Smart Multifunctional Fermentor. Alat ini dilengkapi dengan sistem karbonasi terkontrol guna memanipulasi profil rasa kopi selama proses fermentasi. Mahasiswa akan mendampingi kelompok tani dari proses pengoperasian alat hingga pengemasan, sehingga kopi Desa Klampok memiliki nilai jual tinggi dan cita rasa premium.
Komitmen Kampus untuk Keberlanjutan Program
Rektorat UMM melalui Direktorat Kemahasiswaan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pencapaian ini. Pihak universitas menegaskan bahwa lolosnya pendanaan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Kampus akan terus memantau, memfasilitasi, dan memberikan dukungan penuh, baik materiil maupun moral, agar program-program yang dijalankan di empat desa tersebut dapat berjalan dengan lancar dan memberikan dampak nyata secara berkelanjutan (Diktisaintek Berdampak).
Selamat bertugas kepada para ksatria pengabdi dari UMM. Tunjukkan bahwa mahasiswa hari ini adalah pemimpin masa depan yang responsif terhadap problem masyarakat!