
MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai kiblat pemikiran ilmiah dan inovasi aplikatif dengan mengukuhkan empat Guru Besar baru dalam sebuah prosesi sidang senat terbuka yang khidmat. Langkah akselerasi ini tidak sekadar menambah deretan gelar akademis tertinggi di lingkungan Kampus Putih, melainkan menjadi bukti nyata kontribusi UMM dalam menyuplai kepakaran strategis guna menjawab tantangan global saat ini.
Rektor UMM dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengukuhan ini merupakan momentum krusial. Kehadiran empat profesor baru dengan diversifikasi keilmuan yang sangat spesifik—mulai dari kedaulatan pangan, manajemen air berkelanjutan, inovasi kesehatan modern, hingga transisi energi—menjadi amunisi baru bagi universitas untuk terus memimpin di era transformasi industri dan perubahan iklim.
Berikut adalah profil teoretis dan gagasan besar yang dibawa oleh keempat Guru Besar baru UMM dalam orasi ilmiah mereka:
1. Prof. Henik Sukorini, Ir., M.P., Ph.D., IPM
-
Bidang Kepakaran: Patologi Tumbuhan (Fitopatologi)
-
Fokus Gagasan: Kedaulatan Pangan Berkelanjutan Melalui Manajemen Kesehatan Tanaman
Di tengah ancaman krisis pangan global dan degradasi kualitas lahan, Prof. Henik Sukorini hadir membawa solusi preventif dan kuratif dari lini terkecil pertanian: kesehatan tumbuhan. Melalui kepakarannya di bidang Fitopatologi, ia membedah interaksi kompleks antara tanaman, patogen (mikroorganisme penyebab penyakit), dan lingkungan.
Dalam orasinya, Prof. Henik menekankan pentingnya beralih dari ketergantungan pestisida kimia sintetik yang merusak ekosistem menuju sistem pengelolaan penyakit tanaman terpadu yang berbasis hayati (biologis). Inovasi yang ia tawarkan memfokuskan pada pemanfaatan mikroba agen pengendali hayati dan penguatan imunitas alami tanaman, demi menjamin produktivitas pertanian nasional yang aman konsumsi sekaligus ramah lingkungan.
2. Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T.
-
Bidang Kepakaran: Pemodelan dan Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan
-
Fokus Gagasan: Digitalisasi Hidrologi untuk Mengatasi Krisis Air dan Bencana Ekologis
Air adalah urat nadi peradaban, namun keberadaannya kian terancam oleh urbanisasi masif dan anomali cuaca. Prof. Dr. Ir. Sulianto merespons tantangan ini dengan menghadirkan pendekatan saintifik modern berbasis pemodelan hidrologi digital.
Kepakarannya berfokus pada perancangan simulasi komputer yang mampu memprediksi ketersediaan, pergerakan, dan kualitas air di suatu daerah aliran sungai (DAS). Dengan pemodelan yang presisi, pengelolaan sumber daya air tidak lagi bersifat reaktif, melainkan prediktif dan preventif. Gagasan besar Prof. Sulianto memadukan aspek rekayasa sipil keairan dengan konservasi lingkungan demi memastikan pasokan air bersih yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, sekaligus memitigasi risiko bencana banjir dan kekeringan secara ekstrem.
3. Prof. Dr. Ir. Lailis Syafaah, M.T.
-
Bidang Kepakaran: Rekayasa Biomedik
-
Fokus Gagasan: Kemandirian Teknologi Kesehatan Lewat Instrumentasi Medis Cerdas
Rekayasa Biomedik merupakan jembatan emas antara ilmu teknik (engineering) dan dunia kedokteran. Prof. Dr. Ir. Lailis Syafaah mengukuhkan perannya di bidang mutakhir ini dengan menyoroti urgensi kemandirian teknologi kesehatan di Indonesia.
Dalam paparannya, Prof. Lailis membedah bagaimana pemanfaatan sensor cerdas, pemrosesan sinyal digital, dan integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dapat diimplementasikan pada perangkat medis modern. Mulai dari alat deteksi dini penyakit non-menular hingga sistem pemantauan pasien jarak jauh (telemedicine). Terobosan ini dirancang untuk menciptakan instrumen medis yang tidak hanya akurat dan canggih, tetapi juga efisien secara biaya, sehingga akses layanan kesehatan berkualitas tinggi dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok negeri.
4. Prof. Dr. Machmud Effendy, ST, M.Eng.
-
Bidang Kepakaran: Energi Terbarukan dan Pengelolaan Energi
-
Fokus Gagasan: Akselerasi Transisi Energi Menuju Net-Zero Emission
Menghadapi keniscayaan habisnya cadangan bahan bakar fosil, Prof. Dr. Machmud Effendy tampil membawa cetak biru (blueprint) mengenai masa depan energi Indonesia. Kepakarannya di bidang energi terbarukan mengupas tuntas optimasi potensi alam lokal—seperti energi surya, angin, dan hidro—untuk diintegrasikan ke dalam sistem kelistrikan nasional.
Tidak hanya fokus pada hulu (pembangkitan), Prof. Machmud juga memberikan perhatian besar pada sektor hilir, yaitu manajemen dan efisiensi pengelolaan energi. Ia menawarkan konsep smart grid (jaringan listrik cerdas) dan sistem penyimpanan energi terintegrasi yang mampu meminimalkan losses (energi yang terbuang). Langkah komprehensif ini menjadi kunci krusial bagi Indonesia dalam mempercepat target dekarbonisasi dan mewujudkan kemandirian energi nasional yang bersih serta berkeadilan.
Melalui pengukuhan keempat Guru Besar dengan kepakaran multidisiplin yang saling bertautan ini, UMM kembali mempertegas komitmennya: bahwa menara gading akademik harus diturunkan ke bumi pertiwi dalam bentuk solusi konkret. Kampus Putih siap melangkah lebih jauh, mengawal hasil riset murni ini hingga bertransformasi menjadi kebijakan publik dan hilirisasi industri yang berdampak nyata bagi bangsa dan kemanusiaan.